COVID-19 alias virus Corona telah menjadi epidemi dunia. Di awal tahun 2020 ini dunia digemparkan dengan peristiwa mewabahnya virus COVID-19 alias Virus Corona. Virus ini mengancam seluruh manusia dimuka bumi, tidak hanya merenggut orang yang telah lanjut usia tapi juga anak muda dan balita. Peristiwa ini mendorong banyak negara melakukan langkah-langkah antisipasi agar tidak meluas penyebaran virus yang dapat menular ini.

Cepatnya penularan virus Corona ini membuat para tenaga medis mencoba berbagai macam obat untuk menanggulangi resiko pada setiap pasien. Langkah yang diberikan saat ini adalah memberikan obat sesuai dengan gejala yang di derita sang pasien. Mulai dari obat batuk sampai obat sesak napas yang dimana virus ini gejala virus ini berawal dari batuk-batuk dan demam hingga menyerang paru-paru manusia.

Adakah obat untuk menyembuhkan pasien dari virus COVID-19?

Saat ini para ilmuwan tengah bekerja keras untuk menemukan obat yang cocok untuk menghentikan Wabah virus yang baru terekspos pada awal 2020. Pasien hanya akan diberi obat sesuai dengan keluhan yang dideritanya. Berkaca pada kejadian akhir di Desember hingga januari 2020 lalu di Wuhan, China penggunaan obat bernama Avigan dianggap ampuh dalam mengurangi penyakit pada pasien.

Obat Avigan telah digunakan dalam pengobatan pada para penderita COVID-19 di Wuhan lalu. Responnya pun sangat baik obat yang berasal dari Jepang tersebut mampu memberikan hasil negatif pada pasien dalam empat hari, sedangkan pasien yang tidak mengkonsumsi obat tersebut harus melewati sebelas hari untuk bisa menjadi negatif.

Selain Avigan ada juga obat Chloroquine yang merupakan obat untuk penyakit malaria. Obat ini dikenal juga dengan pil Kina. Chloroquine sudah banyak beredar di Indonesia, obat ini digunakan untuk para penderita Malaria yang banyak menjangkiti Indonesia bagian timur.

Hukum umat muslim mengkonsumsi obat halal dan non halal

Penggunaan obat yang belum memiliki sertifikat halal menjadi polemik. Indonesia ingin menerapkan semua produk yang berada dipasaran wajib memliki sertifikat halal pada tahun 2024 mendatang. Lalu bagaimana agama memandang obat non halal untuk dikonsumsi?

Dalam keadaan mendesak, Islam tidak melarang penggunaan obat yang belum bersertifikat halal untuk dikonsumsi. Islam mengajarkan tolong menolong demi kemanusiaan yang harus diterapkan oleh seluruh umat. Dalam Fatwa MUI tahun 2013 pada nomor 5 poin a dikatakan “digunakan pada kondisi keterpaksaan (al-dlarurat), yaitu kondisi keterpaksaan yang apabila tidak dilakukan dapat mengancam jiwa manusia, atau kondisi keterdesakan yang setara dengan kondisi darurat (al-hajat allati tanzilu manzilah al-dlarurat), yaitu kondisi keterdesakan yang apabila tidak dilakukan maka akan dapat mengancam eksistensi jiwa manusia di kemudian hari”

Melalui ketentuan ini, dalam keadaan yang mendesak umat Islam diperbolehkan untuk menggunakan obat yang belum berlabel halal demi menjaga kesehatan dan keselamatan manusia. Namun, diharapkan para ilmuwan dapat menciptakan obat yang berkandungan halal dan dapat menyembuhkan sebuah penyakit.

Apakah kedua obat tersebut halal?

Avigan adalah obat influenza yang dikembangkan oleh perusahaan Toyama Chemical Co, anak perusahaan Fujifilm Holdings, Jepang dan diproduksi mulai 2014. Obat ini merupakan obat yang digunakan untuk mengobati influenza yang tidak mempan oleh obat flu biasa. Obat ini adalah obat keras jadi terdapat efek samping penggunaannya dan juga harus diberikan melalui resep dokter. Obat yang telah dipesan oleh Presiden Joko Widodo ini belum memiliki sertifikat halal MUI karena langsung didatangkan dari Jepang dan akan segara digunakan untuk mengobati pasien yang positif Corona.

Berbeda dengan Chloroquine atau pil Kina sudah banyak beredar di Indonesia. Obat untuk penyakit malaria ini telah banyak diproduksi oleh perusahaan obat di Indonesia untuk menanggulangi penyakit malaria. Meski pun sudah diproduksi di Indonesia nyatanya Chloroquine belum terdaftar memiliki sertifikat halal MUI bila ditelusuri melalui situs halalmui.com meskipun sudah ada beberapa produsen obat yang memproduksi obat ini. Karena tergolong obat keras, Chloroquine wajib menggunakan resep dokter untuk bisa mendapatkannya.

Meski kedua obat tersebut belum memiliki sertifikat halal, berdasarkan kutipan dari fatwa MUI umat muslim diperbolehkan untuk mengkonsumsi obat tersebut dalam keadaan mendesak. Kedua obat tersebut diharapkan dapat menghentikan perluasan wabah virus COVID-19 di Indonesia.  Saat ini pemerintah sudah menganjurkan masyarakat Indonesia untuk tidak melakukan aktifitas diluar rumah semetara waktu serta melakukan social distancing guna mencegah penyebaran virus COVID-19.

Baca juga:

Virus Corona COVID-19, Doa dan Kebiasaan Orang Indonesia

COVID-19 Datang, Berikut Langkah Antisipasinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − 9 =