Halal supply chain, menjaga rantai pasokan produk halal untuk umat Islam. Besarnya pasar produk halal di Indonesia tidak terlepas karena mayoritas pemeluk agama Islam yang mencapai 80% di Indonesia. Selain Indonesia, negara-negara seperti di Eropa pun mengalami peningkatan umat Islam. Permintaan akan produk halal semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan produk halal. Produk halal umumnya diperuntukan untuk produk-produk yang dikonsumsi manusia, seperti makanan, kosmetik dan obat-obatan.

Saat ini pemerintah mewajibkan semua produk yang berada dipasaran untuk memiliki sertifikat halal. Dengan dibentuknya BPJPH pemerintah mendorong para produsen untuk mendaftarkan semua produknya untuk mendapat sertifikat halal.  Dibawah pengawasan Kementrian Agama, BPJPH ditugasi untuk memberikan sertifikat halal dengan target 80% produk yang beredar di pasaran hingga tahun 2025.

Produk halal tidak hanya mengenai bahan baku produknya saja, tapi juga segala proses perjalanan dari hulu sampai hilir dari produk tersebut. Sebuah produk bisa dikatakan halal bila telah memenuhi syarat-syarat seperti proses mendapatkan bahan baku, proses pembuatan sampai pemakaian nama sebuah produk.

Menjaga kehalalan sebuah produk dapat dilakukan dengan proses Halal Supply Chain (HLSC)

Sebuah proses rantai pasokan atau supply chain produk halal harus diperhatikan dengan seksama, pasalnya sebuah proses produk halal harus memenuhi kriteria yang sesuai dengan syariat. Proses dari hulu sampai hilir harus diperhatikan, tidak hanya seperti apa produk tersebut bisa dikonsumsi oleh manusia.  

Seorang ahli supply chain berkewarganegaraan Belanda, Dr. Marco Tieman merumuskan rantai pasokan produk halal disebut dengan proses from farm to fork. Ia menyebutkan bahwa rangkaian proses produk halal untuk bisa dikonsumsi oleh manusia harus melalui tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan kaidah Islam. Proses Halal Supply Chain ini bermanfaat untuk tetap menjaga produk-produk yang akan diproses menjadi produk halal tetap terjaga kehalalannya.

Baca juga: Potensi Makanan Halal Untuk Ekspor

Dr. Marco Tieman pun mencontohkan bila sebuah ayam yang hendak dijadikan makanan halal harus lah dimulai dari sebuah proses pembibitan yang halal, pakan hewan yang halal, pemotongan yang sesuai syariat Islam hingga pengemasan dan distribusi yang terjamin kehalalannya.

Proses distribusi produk halal lebih baik melalui pelabuhan halal.

Pada proses distribusi, produk halal harus menggunakan segala saluran halal seperti penggunaan peti kemas yang bersih dari najis sampai pelabuhan khusus halal. Hingga saat ini pelabuhan di Brazil, Malaysia, Thailand dan Korea sudah memiliki pelabuhan halal untuk memenuhi kebutuhan akan produk halal umat Muslim dunia.

Hadirnya pelabuhan halal di suatu negara akan memudahkan para pemasok untuk mengirimkan produknya ke seluruh negara. Pelabuhan halal juga akan menjaga serta memisahkan produk halal akan tidak akan tercampur ataupun disatukan dengan produk non-halal baik saat dipelabuhan ataupun di dalam peti kemas.

Melajunya bisnis halal menjadi kesempatan besar para pemasok bahan baku diseluruh dunia.  Dengan standar HLSC atau Halal Supply Chain ini mereka dapat mengirimkan bahan bakunya ke seluruh negara dengan mayoritas muslim. Meningkatkan ekspor melalui produk-produk halal merupakan kesempatan emas bagi negara-negara muslim dan non-muslim yang tanggap akan besarnya potensi segmen pasar produk halal di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × three =