Hari santri nasional dirayakan setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Ketetapan ini dibuat di tahun 2015 oleh Presiden Jokowi. Dasar ketetapaan tersebut, karena pesantren dianggap telah banyak berkontribusi dalam pembangunan Indonesia. Memilih menjadi santri adalah memilih kehidupan mandiri. Kehidupan pesantren hari ini berbeda dari citra kehidupan pesantren dua dekade kebelakang. Kehidupan pesantren hari ini sudah menjadi idaman, bukan lagi cemoohan. Dulu, mereka yang memilih sekolah di Pesantren dianggap karena hukuman atas kenakalan remaja yang dilakukan. Seolah pendidikan pesantren adalah pilihan untuk masa depan anti kesuksesan alternatif bayangan kesuraman. Sekolah yang berbasis pendidikan pesantren dianggap tidak menjanjikan kehidupan yang mensejahterakan. Tidak demikian dengan hari ini. Keberadaan pesantren sudah tak terbilang. Hampir di setiap kota, pendidikan berbasis pembelajaran dominasi materi keagamaan, mudah ditemukan. Bahkan lulusan-lulusan Pesantren juga telah menjadi tokoh acuan masyarakat Indonesia. Terpilihnya Wakil Presiden Indonesia juga dapat dikatakan konfirmasi kontribusi pesantren di Indonesia.

Baca juga : Pertumbuhan Pesantren di Indonesia https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/30/p088lk396-pertumbuhan-pesantren-di-indonesia-dinilai-menakjub

Nyantri Berarti Siap Antri Setiap Hari

Hari Santri Nasional memang layak ditetapkan. Memilih sekolah pesantren di tahun sembilan puluhan, tidak semudah hari ini. Selain minimnya infrastruktur yang mengakses informasi tentang pesantren, pada umunya pesantren berdiri di kota-kota yang tidak mudah di jangkau. Minimnya alat transportasi dan tekhnologi informasi, mengakibatkan mereka yang memilih menjadi santri seolah terisolasi. Tidak ada akses menghubungi orang tua setiap hari. Menjadikan segala kebutuhan sekolah dan keseharian harus dipenuhi sendiri. Dari mengatur waktu bangun pagi, hingga menyelesaikan semua tugas belajar dan urusan pribadi. Harus disiapkan energi untuk selalu mengantri. Mengantri giliran mandi, giliran makan, giliran menjemur pakaian, giliran mengaji. Seolah antrian adalah pil pahit melatih kesabaran. Untuk harapan berbuah ketertiban. Gambaran kehidupan ini telah menginpirasi sejumlah professional kreatif Indonesia. Hari santri nasional ditetapkan, karena sudah banyak contoh sukses buah kemandirian santri telah mengkontribusi pembangunan Indonesia.

Baca Juga : Dakwah, sebuah film dokumenter https://blog.etokohalal.com/dakwah-film-dokumenter-karya-italo-spinelli/

Santri pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Garut saat merayakan hari Kemerdekaan RI

Hari Santri Nasional Eksistensi Prestasi Santri

Tidak hanya kuantitas lulusan pesantren di Indonesia untuk unjuk eksistensi. Keberadaan alumni lulusan pesantren juga telah memotori perubahan di Indonesia. Sebut saja Ustad Abdul Somad yang telah mendapatkan Republika Award sebagai tokoh perubahan Republika 2017. Dianggap tokoh perubahan Indonesia, karena telah mengubah wajah kerisauan dan kehawatiran mayarakat, menjadi semangat perubahan. Sejumlah birokrat berlatar belakang santri juga telah banyak bermunculan. Memberikan banyak pemikiran perubahan untuk pembangunan Indonesia. Belum lagi entreupreuner-entreupreuner yang lahir buah dari kemadirian pengalaman hidup di Pesantren. Berdirinya usaha-uaha kecil menengah yang mampu menciptakan lapangan kerja. Tidak sedikit lahir dari mereka yang memiliki latar belakang kehidupan Pesantren. Untuk itu Etokohalal hadir sebagai wadah menjawab kebutuhan akses produk santri entreupreuneur. Kemudahan berbelanja produk halal dan kepastian kehalalan produk menjadi fokus keberadaan Etokohalal. Sebagai kendaraan mengejar era digital. Memasuki gaya hidup halal digital. Selamat Hari raya santri nasional.

baca juga : Film dengan tema pesantrenhttps://www.brilio.net/film/6-film-indonesia-ini-ambil-tema-khusus-soal-pesantren-laris-nggak-ya-170309h.html

Video undangan reuni alumni pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Garut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × 2 =