Kredit Syariah kian diminat. Alat transportasi pribadi telah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat perkotaan. Meskipun kini transportasi publik tengah digalakkan tapi kendaraan pribadi selalu meningkat tiap tahunnya. Peningkatan ini tidak sebanding dengan ruas jalan yang ada, sehingga membuat kemacetan semakin mengular.

Menggunakan transportasi pribadi tidaklah dilarang penggunaannya dalam Islam, namun cara mendapatkan kendaraan tersebutlah yang harus diperhatikan. Layaknya seperti jual-beli pada umumnya, membeli kendaraan pribadi harus tetap tidak menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan Islam, seperti riba. Misalnya dalam membeli mobil, karena harga yang tidak murah kita wajib menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mengumpulkan dana yang tidak sedikit untuk bisa membeli kendaraan secara tunai, atau dengan kredit yang sesuai Islam.

Kredit tanpa riba, kredit secara Syariah

Cara lain untuk dapat membeli sebuah kendaraan adalah dengan cara menggunakan kredit. Kredit ini adalah cara kredit yang dianjurkan dalam Islam bukan dengan cara riba. Akad yang digunakan dalam melakukan transaksi ini adalah akad Mudharabah.

Akad ini dianjurkan oleh agama karena tidak mengandung riba yang memberi nilai lebih dengan bunga. Akad ini menggunakan cara dimana si pemiliki uang (kreditur) yang ingin meminjamkan uang membelikan barangnya terlebih dahulu secara tunai lalu selanjutnya si peminat (debitur) membayarnya dengan mencicil sesuai dengan profit yang telah ditentukan. Hingga sampai waktu cicilan selesai, barang tersebut adalah sewa. Jika telah selesai baru lah barang tersebut milik si debitur.

Kredit syariah, kreditur membelinya secara tunai

Misal sebuah mobil bertipe sedan memiliki harga 250 juta rupiah. Maka sang kreditur membelikan mobilnya terlebih dahulu dari dealer secara tunai. Selanjutnya, mobil tersebut akan diberikan kepada anda sang debitur si peminat mobil. Sang kreditur mengambil untung 30 juta rupiah yang berarti kendaraan tersebut kini memiliki harga 280 juta rupiah. Setelah itu sesuai akad maka sang debitur harus mencicil kendaraan tersebut kepada kreditur selama waktu yang telah ditentukan kedua belah pihak.

Baca juga: Belanja Online, Halal atau Haram?

Kelebihan dianggap untung bukan bunga

Akad dalam Mudharabah merupakan akad yang digunakan sang kreditur dalam memberi pinjaman. Setelah sang kreditur membelikan kendaraan secara tunai, kesepakatan margin yang diambil oleh kreditur harus dipenuhi oleh debitur. Ini bukanlah riba karena tidak mengandung bunga yang dibebankan kepada debitur dalam setiap pembayaran cicilan bulanan.

Biaya keterlambatan pembayaran

Dalam akad Mudharabah tidak ada denda saat pembayaran telat. Apabila debitur telat dalam melakukan pembayaran maka ada biaya yang harus dibayarkan, namun biaya yang dibayarkan tersebut tidak dihitung sebagai kelebihan keuntungan bagi kreditur melainkan akan disumbangkan kepada yang membutuhkan. Sekalian bisa beramal.

Biaya keterlambatan bayar tersebut dianggap riba jika diambil sebagai keuntungan, maka kreditur dilarang menambahkan keuntungan dari biaya tersebut. Namun, alangkah baiknya debitur jika tidak menunda pembayaran apabila anda benar-benar mampu untuk melunasi pembayaran.

Meskipun dirasa tidak mampu untuk membeli kendaraan secara tunai alangkah baiknya untuk membeli kendaraan secara kredit Syariah. Dengan menggunakan kredit Syariah maka tidak menghadirkan riba dalam transaksi serta memberi kebaikan dalam menjauhi larangan dalam Islam dan tidak ditakutkan dengan bunga bank yang kadang naik atau turun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

12 + 18 =