Kenaikan harga atas wabah virus Corona. Fenomena virus corona yang mewabah di seluruh dunia telah menjadi sumber ketakutan dunia. Meskipun hanya berawal dari salah satu negara bagian di Tiongkok, epidemik ini nyatanya sudah menyebar ke seluruh dunia hanya dalam dua bulan. Setelah lebih dari satu bulan virus ini memakan korban di Wuhan, virus ini dengan cepat  menyebar hampir diseluruh dan menimbulkan korban meninggal dinegara-negara selain Tiongkok.

Masuknya Virus Corona ke Indonesia

Pada awal penyebarannya di Desember 2019 lalu hingga Januari 2020 kemarin belum ada satupun warga Indonesia yang dinyatakan positif atas virus corona. Tapi pada awal bulan Februari lalu, presiden Joko Widodo menyatakan ada dua warga Indonesia yang menghidap virus ini karena pernah melakukan kontak dengan warga asing yang ternyata positif menghidap virus corona setibanya di Malaysia setelah berkunjung dari Jakarta.

Kepanikan yang berlebihan

Pengumuman ini membuat banyak kejadian kepanikan ditengah masyarakat. Melihat dari aksi para warga yang selamat selama virus corona di kota Wuhan, semuanya dianjurkan untuk mengurung diri dirumah masing-masing. Dengan kondisi darurat tersebut mereka harus menyiapkan persediaan makanan. Sehingga terjadi banyak aksi “Panic Buying” yang terjadi. Begitupun di Indonesia yang mulai resah akan persebaran virus corona.  Meski tidak terjadi pembelanjaan secara besar-besaran namun kebutuhan proteksi diri seperti masker mulut dan hidung serta pembersih tangan menaik secara signifikan.

Mahalnya harga masker dan pembersih tangan ini dilakukan oleh para pedagang yang melihat adanya permintaan yang tinggi akan kedua barang tersebut. Tidak tanggung-tanggung kenaikan harganya mencapai 300% lebih dan juga semakin berkurangnya stok masker dipasaran.

Kenaikan harga berlebihan dalam berdagang merupakan hal yang dilarang dalam agama Islam

Meningkatnya permintaan akan masker dan pembersih tangan membuat para pedagang menaikkan harga hingga 300% lebih. Hal ini sesungguhnya dilarang dalam Islam, sesungguhnya Islam tidak mengatur secara langsung berapa keuntungan yang boleh diambil dalam berdagang. Namun beberapa ulama menganjurkan untuk mengambil keuntungan 1/3 dari harga modal atau paling besar 1/6 dari harga modal. Apabila harga sudah melebihi dari anjuran yang diajarkan dalam dari para ulama maka dianggap batil.

Baca juga: Mengaplikasikan Adab Berdagang Ala Rasulullah Dalam Bisnis Online

Hukum dari berdagang dalam Islam adalah akad mu’awadhah yaitu akad tukar menukar. Apabila keuntungannya sudah melapaui terlalu besar (Batil) maka dianggap melakukan perbuatan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil karena tidak termasuk dalam kegiatan jual-beli.

Dilarang menimbun barang demi untung besar

Dalam berdagang Islam tidak memperbolehkan melakukan ihtikar yang berarti menimbun suatu jenis barang. Penimbunan ini dianggap dapat merugikan konsumen. Ihtikar umumnya dilakukan adalah pembelian dalam jumlah besar saat harga tinggi lalu saat permintaan naik maka harga barang yang ditimbun akan dijual lebih tinggi dari saat dibeli. Kenaikan harga ini dirasa akan sangat merugikan konsumen.

Janganlah melakukan Ihtikar untuk barang-barang yang saat ini menjadi kebutuhan untuk menghindari virus corona. Tidak juga dibeli dalam jumlah yang amat besar yang membuat orang lain tidak kebagian barang tersebut. Lebih baik bila kita tidak membeli secara berlebihan dan tetap menyisakannya bagi orang lain.

Melonjaknya harga pasar komoditas-komoditas kebutuhan tertentu seperti masker dan pembersih tangan sangat disayangkan. Meski dalam keadaan darurat, alangkah baiknya jika untuk tidak membebani sesama saudara demi mengambil keuntungan lebih. Berdangang secara Islam tidak menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan konsumen dalam kondisi dan situasi apapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 3 =