Obat halal menjadi produk yang sangat ingin dilabeli halal. Belum semua produk obat-obatan yang beredar di Indonesia sudah berlabel halal. Berdasarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia atau LPPOM MUI Setidaknya baru ada 20-30 produk yang telah mengantongi sertifikat halal dari sekitar 150 produsen obat-obatan.

Mulai tahun 2019 ini pemerintah mewajibkan semua produk yang ada dipasaran wajib memiliki label halal. Pemerintah melalui BPJPH mendorong semua produsen untuk mendaftarkan semua produk untuk mendapat label halal.

Namun untuk produk obat, sertifikat halal masih memiliki kendala. Beberapa alasan yang membuat produk kesehatan sulit mendapat label halal dianggap menjadi tantangan dalam memberikan label tersebut kepada produsen obat-obatan.

Bahan baku impor

Salah satu tantangan yang masih sulit dipecahkan adalah bahan baku yang digunakan masih merupakan produk impor. Produk impor yang menjadi bahan baku pembuatan obat ini membuat obat diragukan kehalalannya. Bahan baku impor yang masuk ke Indonesia belum dapat dipastikan apakah layak atau tidak untuk dikonsumsi.

Seringnya berganti bahan baku dalam pembuatan obat menjadi salah satu kendala yang dalam pemberian label. Produsen dapat mengganti pemasok mereka apabila pemasok yang biasa mereka gunakan tidak dapat memenuhi kebutuhan bahan baku.

Inovasi berkelanjutan

Industri farmasi merupakan industri yang terus melakukan pengembangan. Selama pengembangan berlangsung, uji coba terhadap semua bahan baku yang memiliki kemungkinan dapat digunakan terus dicoba. Uji coba memungkinkan menggunakan segala bahan baku yang diperbolehkan maupun dilarang dalam syariat. Dengan bahan baku yang terus di uji coba maka sebuah peneliatan memungkinkan masih terkandung bahan baku non-halal dalam produknya.

Inovasi obat terus dilakukan secara cepat demi memberikan kesehatan bagi penderita. Obat-obat yang diciptakan dan telah di uji menjadi pasokan obat dipasaran. Terlepas dari bahan dasar yang berasal dari produk halal, Kementerian Kesehatan telah meminta peraturan khusus untuk mengatur tentang sertifikasi produk untuk obat-obatan.

Pemisahan obat halal dan non-halal

Melakukan pemisahan membuat membesarnya biaya dalam penyimpanan obat. Dengan besarnya biaya yang akan berdampak ke harga obat tersebut. Pemisahan ini akan membuat harga obat semakin tinggi karena dibutukan biaya tambahan untuk melakukan pemisahan obat tersebut.

Baca juga: ISEF 2019 Memacu Industri Halal Indonesia

Konsumen akan semakin dirugkan bila terjadi kenaikan harga. Semakin mahalnya biaya obat, menjadikan biaya untuk berobat pun semakin tinggi.

Penggunaan label pada obat masih pro dan kontra. Fakta dilapangan mengenai bahan baku yang masih di impor menjadi kendala utama pemberian label halal, pemerintah yang diwakili oleh BPJPH harus membuat aturan dan regulasi khusus mengenai sertifikasi halal untuk produk obat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × 3 =