Wisata halal kini sedang gencar dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Setelah meraih peringkat pertama sebagai negara tujuan wisata halal versi dari CrescentRating, Indonesia semakin berbenah dalam meramu wisata halal. Indonesia memiliki lima destinasi prioritas dalam wisata halal, yaitu Lombok, Aceh, Riau dan kepulauan Riau, DKI Jakarta dan Sumatera Barat. Tahun ini pemerintah akan menambah enam Kabupaten dan Kota lagi untuk menjadi destinasi prioritas wisata yang ramah bagi umat muslim yaitu, Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur.

Sebagai negara umat muslim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia menjadi pusat dari wisata halal dunia. Bertumbuhnya wisata halal di dunia tidak lepas karena semakin banyaknya penduduk yang berasal dari negara Islam yang berwisata keluar negeri. Potensi ini harus bisa diraih untuk mendatangkan wisatawan muslim lebih banyak ke tanah air.

Besarnya potensi wisatawan muslim membuka kesempatan bagi para negara-negara yang bermayoritas non-muslim untuk membuka wisata halal bagi para wisatawan muslim yang datang. Negara-negara tersebut mulai menyiapkan diri untuk bisa menjadikan destinasi wisatawan yang ramah bagi para muslim. Persaingan pun semakin terbuka, negara-negara yang memang menjadi tujuan wisata para wisatawan seperti Thailand, Korea Selatan dan Jepang pun turut ambil bagian dalam mencuri minat umat muslim yang ingin berwisata.

Dalam membantu memajukan wisata halal di Indonesia MUI pun menerbitkan fatwa yang memberi panduan mengenai wisata untuk umat muslim ini. Fatwa tersebut adalah hasil dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI dengan nomor 108/DSN-MUI/X/2016.

Baca juga: Indonesia pilihan pertama destinasi wisata ramah kaum muslim di dunia

Berikut ini merupakan prinsip umum yang di rumuskan oleh MUI dalam perkembangan wisata yang ramah akan umat Islam

Pihak penyelenggara wisata

  • Wajib terhindar dari kemusyrikan, kemaksiatan, kemafsadatan, tabdzirlisraf, dan kemunkaran; serta menciptakan kemaslahatan dan kemanfaatan baik secara material maupun spiritual.

Terkait hotel

  • Hotel tersebut tidak boleh menyediakan fasilitas akses pornografi dan tindakan asusila.
  • Tidak boleh menyediakan fasilitas hiburan yang mengarah pada kemusyrikan, maksiat, pornografi dan/atau tindfak asusila.
  • Makanan dan minuman yang disediakan hotel Syariah wajib telah mendapat sertifikat halal dari MUI.
  • Menyediakan fasilitas, peralatan dan sarana yang memadai untuk pelaksanaan ibadah, termasuk fasilitas bersuci.
  • Pengelola dan karyawan/karyawati hotel wajib mengenakan pakaian sesuai Syariah.
  • Hotel Syariah wajib memiliki pedoman dan/atau panduan mengenai prosedur pelayanan hotel guna menjamin terselenggaranya pelayanan hotel yang sesuai dengan prinsip Syariah.

Terkait destinasi wisata

  • Destinasi wisata Syariah wajib memiliki fasilitas ibadah yang layak pakai, mudah dijangkau dan memenuhi persyaratan Syariah; makanan dan minuman halal yang terjamin kehalalannya dengan sertifikat Halal MUI.
  • Destinasi wisata wajib terhindar dari kemusyrikan dan khurafat; maksiat, zina, pornografi, pornoaksi, minuman keras, narkoba dan judi; pertunjukan seni dan budaya serta atraksi yang bertentangan dengan prinsi-prinsip Syariah.

Wisata halal berdasarkan Crescent Rating

  • Makanan halal
  • Fasilitas shalat
  • Kamar mandi dengan air untuk wudhu
  • Pelayanan saat bulan Ramadhan
  • Pencantuman label non-halal (jika ada makanan yang tidak halal)
  • Fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur secara bebas)

Berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI):

  • Destinasi ramah keluarga
  • Layanan dan fasilitas di destinasi yang ramah muslim
  • Kesadaran halal dan pemasaran destinasi
  • Keamanan umum bagi wisatawan muslim
  • Jumlah kedatangan wisatawan muslim yang cukup ramai
  • Pilihan makanan dan jaminan halalnya
  • Akses ibadah yang mudah dan baik
  • Fasilitas di bandara yang ramah muslim
  • Opsi akomodasi yang memadai
  • Kemudahan komunikasi
  • Jangkauan dan kesadaran kebutuhan wisatawan muslim
  • Konektivitas transportasi udara

Hadirnya panduan tentang wisata berbasis syariah ini menjadikan pemerintah memiliki batasan atau rumusan mengenai wisata halal untuk dikembangkan. Terpilihnya Indonesia sebagai destinasi utama wisata halal dunia harus memotivasi para pelaku industri pariwisata untuk juga turut andil dalam perkembangan wisata halal di Indonesia. Semakin banyaknya wisatawan yang datang, semakin terbuka juga pariwisata Indonesia selain Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + four =